Tidak sedikit cerita mengisahkan kebijaksanaan Umar bin Khattab sebagai khalifah dan pemimpin umat Islam. Berbagai kisah keteladanan Umar yang hidup sederhana dan bersikap wara' dapat menjadi contoh bagaimana seorang pejabat hidup dengan tetap memegang nilai-nilai ajaran agama Islam. Ia menjadi contoh nyata yang menjadi teladan integritas bagi pejabat dan kaumnya.
Bahkan, Umar tidak hanya menerapkan prinsip integritas dan antikorupsi pada dirinya sendiri, melainkan juga kepada anak dan keluarganya. Alih-alih mendapatkan perlakuan khusus, anak dan keluarga Amirul Mukminin justru hidup paling sederhana dibandingkan masyarakat pada umumnya. Tidak ada kemewahan yang bisa dinikmati sebagai anggota keluarga khalifah, pemimpin tertinggi umat Islam pada masa itu. Yang ada, justru ketika anaknya melakukan kesalahan, khalifah tidak segan memberikan hukuman yang tidak pandang bulu.
Hal ini pula yang terjadi pada putra Umar bin Khattab. Sebagai anak khalifah, tidak ada fasilitas ataupun hak istimewa yang diberikan oleh sang ayah kepadanya. Bahkan, pernah suatu ketika, Umar bin Khattab memarahi putranya, Abdullah bin Umar, karena dianggap menikmati hak istimewa (privilege) sebagai anak khalifah. Padahal, Abdullah bin Umar sama sekali tidak tahu-menahu soal hal tersebut.
Kisah ini bermula ketika bisnis unta yang dimiliki Abdullah bin Umar mulai nampak menjanjikan. Ia membeli seekor unta yang kurus, lalu menggembalakannya di padang rumput di Madinah. Padang rumput tersebut biasanya menjadi tempat unta-unta sedekah milik Baitul Maal dan juga milik warga mencari makan. Setelah beberapa waktu lamanya, unta milik Abdullah bin Umar menjadi semakin gemuk.
Di antara kebiasaan Amirul Mukminin adalah melakukan pemeriksaan atau inspeksi mendadak di berbagai tempat yang menjadi lokasi perputaran ekonomi, seperti pasar dan tempat jual-beli lainnya. Kebetulan waktu itu, sang khalifah pergi memeriksa padang rumput yang menjadi tempat berkumpulnya berbagai hewan ternak milik warga Madinah. Tak disangka, Khalifah Umar melihat ada seekor unta gemuk yang menurutnya berbeda dibandingkan dengan unta-unta lainnya.
Melihat hal yang menurutnya ganjal, Umar lantas bertanya kepada warga, “Siapakah pemilik unta ini?”
Mereka menjawab, “Unta itu milik anakmu, Abdullah bin Umar."
Umar pun terkejut mengetahui bahwa pemilik unta gemuk itu adalah anaknya sendiri. “Bagus, bagus sekali, wahai anak Amirul Mukminin,” kata Umar sambil menahan emosi.
Kemudian Umar mengutus orang untuk memanggil Abdullah.
Putranya-pun datang dengan tergesa-gesa. Ketika Abdullah sampai di hadapan ayahnya, Umar mengelus-elus ujung jenggotnya, lalu berkata kepada anaknya, “Unta siapakah ini Abdullah?”
“Unta ini aku beli menggunakan uangku sendiri, wahai Amirul Mukminin. Unta ini dulunya sangat kurus, lalu kugembalakan di padang rumput. Setelah sekian lama, akhirnya unta ini menjadi gemuk. Aku memperdagangkannya agar memperoleh keuntungan sebagaimana yang dilakukan oleh orang lain pada umumnya,” kata Abdullah menjelaskan kepada ayahnya.
Umar membantahnya dengan nada keras, “Lalu ketika orang-orang melihat untamu ini, mereka berkata, Gembalakanlah unta milik anak Amirul Mukminin. Rawat dan berilah minum secukupnya. Karena itulah, untamu menjadi gemuk dan berlipat keuntunganmu, wahai anak Amirul Mukminin!”
Umar melanjutkan, “Wahai Abdullah bin Umar, ambillah modal pokok yang kamu gunakan untuk membeli unta ini, kemudian berikan semua keuntungannya ke Baitul Maal.” Umar memerintahkan hal ini dengan maksud agar unta milik Abdullah dijual, lalu keuntungan hasil penjualannya disedekahkan kepada Baitul Maal, sementara Abdullah sendiri hanya boleh mengambil biaya pembelian unta.
Abdullah bin Umar mengikuti perintah ayahnya dengan penuh ketaatan. Ia sama sekali tidak marah, karena sudah paham karakter sang ayah yang sangat wara' dan berhati-hati agar terhindar dari perkara syubhat, apalagi yang haram. Umar tampak sangat khawatir lantaran unta milik putranya tumbuh dengan baik dan berkecukupan lantaran mendapatkan perhatian lebih dari petugas padang rumput, karena unta tersebut milik anak Amirul Mukminin. Sementara, unta-unta lain milik warga biasa berukuran wajar.
Sang khalifah tidak mau anaknya mendapatkan perlakuan istimewa karena jabatan yang dimilikinya, karena dalam pandangan Umar, hal ini termasuk perbuatan memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi. Tentu, menurut Amirul Mukminin, perbuatan ini mengarah pada tindakan zalim sebab ada unsur penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya diri dan keluarga, sehingga termasuk kategori ghulul (korupsi).
Tindakan Umar ini merupakan bentuk mitigasi terhadap benturan kepentingan (conflict of interest). Seorang pejabat publik tidak hanya dituntut untuk bersih secara hukum, tetapi juga harus menjaga persepsi publik agar tidak muncul kecemburuan sosial yang dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap integritas institusi.
Di waktu yang lain, Umar juga pernah menegur Abdullah saat berkunjung ke rumah putranya tersebut. Teguran keras yang disampaikan Umar ini berawal ketika makanan tengah dinikmati sang anak. Saat itu, ketika Umar mendatangi rumah Abdullah, putranya ini sedang makan dengan lauk daging. Tak pelak, hal ini membuat Umar geram.
Umar berkata dengan tegas, “Apakah karena engkau itu anak dari Amirul Mukminin, lalu engkau bisa makan daging dengan nikmat, sementara orang-orang di luar sana sedang dalam keadaan susah? Tidak bisakah engkau makan cukup dengan roti dan garam saja atau roti dengan minyak?”
Teguran Umar bin Khattab kepada Abdullah ini merupakan keteladanan agar pejabat dan keluarganya memiliki simpati dan empati terhadap kondisi rakyat yang tengah hidup susah.
Umar memberikan pelajaran penting bahwa pejabat negara dan keluarganya harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi, terlebih lagi ketika masyarakat sedang mengalami kesulitan ekonomi.